Jurnalis Senior : "Kita Stop Jokowi Tanpa Hoax, Ujaran Kebencian, dan Penghinaan"

SHARE:



KabarViral - Kemarin, saya mengajak kawan-kawan untuk meninggalkan hoax, ujaran kebencian, hujatan, dll, dalam mengeritik pemerintah dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di medsos atau di mana saja.

Tetapi, perlu ditegaskan bahwa dengan ajakan ini tidak berarti kritikan kita akan tumpul. Kita akan beroposisi dengan keras dan tegas. Hanya saja, kritikan akan kita sampaikan tanpa hujatan personal, ujaran kebencian apalagi hoax.

Seluruh dunia paham bahwa Anda, para oposan Presiden Joko Widodo (Jokowi), menilai pelaksanaan pemerintahan negara ini banyak melanggar komitmen politik yang telah beliau janjikan dan bahkan bertentangan dengan banyak prosedur administrasi kenegaraan. Malahan, ada yang mengatakan telah melanggar peraturan-perundangan. Semua orang tahu itu.

Dan begitu banyak orang sepakat bahwa Pak Jokowi tidak layak dipilih untuk kedua kali di Pilpres 2019. Kita pun sepakat bahwa beliau cukup lima tahun saja menjadi presiden, demi kemaslahatan Indonesia.

Pandangan seperti ini, sah-sah saja. Boleh kita sampaikan secara terbuka. Boleh juga kita teriakkan di dalam aksi-aksi damai kapan saja Anda mau. Tidak ada yang salah dengan cara ini, dan tidak ada seorang atau satu lembaga pun yang bisa mencegah Anda. Itu hak penuh Anda sebagai warga negara. Hak yang dijamin oleh konstitusi negara.

Kita bebas mengajak siapa saja untuk tidak memilih Jokowi di Pilpres 2019. Kalau mau, bisa juga Anda mulai dari sekarang sampai nanti masa tenang kampanye. Tidak ada masalah! Sama hak kita dengan hak parpol-parpol yang telah mendeklarasikan pencalonan Jokowi untuk Pipres 2019 itu.
Tetapi, marilah kita lakukan dengan cara yang santun. Kenapa harus santun? Sebab, kita sedang memberikan keteladan kepada generasi penerus. Kita sedang disaksikan oleh anak-cucu kita, oleh adik-adik kita.

Dan, harap diingat, apa yang kita lakukan sekarang tidak sebatas usaha menghentikan kekuasaan Pak Jokowi pada Pilpes 2019, tetapi jauh setelah itu. Kita akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan Indonesia ke suasana pra-pemerintahan yang carut-marut ini.

Hari ini, kita kritik sekeras dan setajam mungkin kesewenangan yang dilakukan oleh rezim ini. Kita kritik para menteri dan pejabat tinggi yang tak becus menjalankan tugas. Kita kecam keras Kapolri yang kita anggap main tebang pilih, yang membiarkan kelompok kasar pro-rezim berbuat sesuka hati, tetapi mengejar-ngejar para aktivis yang beroposisi.

Ini kritik tajam kita. Kita sebut Pak Kapolri kelihatannya bekerja berdasarkan pesanan oligarkhi politik dan bisnis dalam kasus Victor Laiskodat; juga dalam kasus para penista agama lainnya. Tidak perlu kita sebut kata-kata jorok yang malah terkesan “murahan”. Dan, tidak perlu menyebut beliau itu h**d*r, dsb. Dengan istilah “bekerja berdasarkan pesanan” ini saja, seharusnya Pak Tito tidak bisa tidur.

Kita kritik Menteri Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (LBP) yang bisa seenaknya mencampuri banyak urusan yang berada di luar otoritas kemenkoanya. Misalnya, kita lihat LBP yang mengeluarkan pernyataan tentang divestasi 51% saham PT Freeport. Padahal, persoalan yang terkait dengan perusahaan tambang ini bukan urusan dia. Dia juga menunjukkan campur tangan yang aneh dalam hal reklamasi Teluk Jakarta.

Kita sebut saja Pak LBP itu “jurubicara” Presiden atau kontraktor “out-sourcing” kekuasaan Presiden. Tidak masalah. Ini adalah bentuk kritikan tajam tetapi tidak menghina. Sebab, ini penilaian atau pendapat politik kita. Pendapat ini bisa kita pertahankan secara subyektif. Semua orang berhak mengemukakan pendapat subyektif mereka tentang cara kerja politik dan pemerintahan.

Kita tidak menghina pribadi Pak LBP, hanya “meledhek” cara beliau menjalankan tugasnya yang, menurut kita, tidak sesuai dengan posisi yang beliau duduki sebagai Menko Kemaritiman.

Berdasarkan pengamatan, kita yakin bahwa LBP sangat luas kekuasaannya. Semua dia komentari. Apa saja. Soal hutang luar negeri, jalan tol, soal bandara, impor gas dari Singapura, saham Freeport, sampai soal Setya Novanto yang terbaring di rumah sakit. Sangat wajar disebut sebagai “jurubicara presiden”.

Cara pemerintahan ini dijalankan oleh Pak Jokowi memang memerlukan kritikan pedas, terus-menerus. Tetapi, sekali lagi, mari kita jauhi hoax, ujaran kebencian, penghinaan personal, hujatan atau penistaan agama, dlsb, tanpa mengurangi ketajaman dan hunjaman kritik kita.

Presiden Jokowi juga bisa kita kritik pedas. Soal hutang luar negeri, sebagai contoh. Kita bisa mengatakan bahwa Jokowi menggadaikan negara kepada kreditur. Ini pendapat politik, sah-sah saja. Terkait dengan impor macam-macam kebutuhan penting, kita bisa mengatakan, “dengan kebijakan serba impor, Jokowi menghancurkan ekonomi rakyat”. Bisa juga lebih keras, “impor adalah satu-satunya ilmu ekonomi yang lumayan dipahami oleh Jokowi”.

Isu Rohingya adalah contoh lain. Ada kritik pedas untuk Jokowi. Di saat para pemimpin dunia sibuk mau menolong warga muslim yang dibantai tentara Myanmar itu, Jokowi malah diam. Setelah rakyat ribut, barulah muncul. Bahkan, para pajabat seniornya menuduh ada pihak yang menggunakan isu Rohingya untuk menyerang Presiden. Jadi, sudahlah bereaksi lambat, malah menyulut polemik domestik.

Silakan, dengan cara yang baik, Anda buat inisiatif untuk meyakinkan publik bahwa Presiden Jokowi jangan sampai diberi mandat dua periode. Segudang alasan bisa kita uraikan, baik itu berupa kesimpulan politik maupun kesimpulan faktual.

Kita tunjukkan borok-borok pemerintahan ini. Kita jelaskan secara gamblang perbedaan pendapat kita dengan rezim ini. Silakan Anda katakan bahwa cukuplah Pak Jokowi lima tahun saja.

Namun, marilah kita gunakan bahasa dan cara yang menunjukkan bahwa kita tidak seperti para pembuat hoax atau pembuat ujaran kebencian. Juga tidak seperti orang-orang yang gampang menghina agama Islam tanpa ada tindakan dari kepolisian. Atau, kalau pun ada tindakan, itu dilakukan sekadar basa-basi belaka.

Mari kita katakan bahwa Pak Jokowi sekarang terjebak di dalam lingkaran kepentingan para taipan yang rakus. Bahwa beliau kebingungan untuk menolak desakan para taipan itu, sampai akhirnya mengikuti saja keinginan mereka. Silakan sebut Pak Jokowi digiring oleh para konglomerat, oleh para taipan, yang hanya memikirkan keuntungan bisnis mereka.

Inilah penilaian kita. Inilah yang kita lihat. Inilah sudut pandang kita. Dan inilah yang akan kita jadikan dasar untuk mencegah Jokowi di Pilpres 2019.

Jadi, marilah kita stop Pak Jokowi tanpa hoax, tanpa ujaran kebencian, tanpa hujatan dan penghinaan yang sifatnya personal (pribadi).

By Asyari Usman
(Penulis adalah wartawan senior)

-kabarviral/fb

COMMENTS

loading...
Nama

Ahok,3,Aktual,1,Alam,1,Artikel,2,Artis,6,Berita,41,Berita Internasional,15,Berita Nasional,2390,Breaking News,309,DR Zakir Naik,4,Facebook,87,Foto,2,Freeport,3,Gadget,1,Habib Rizieq syihab,2,Heboh,329,Hot News,17,Hot Tips,3,HTI,1,Ibadah,1,Ilmiah,1,Info,81,Inpiratif,14,INSPIRATIF,8,Inspiring,1,Internasional,12,Islam,10,Islami,23,istiwa,3,Jokes,1,Jokowi,5,Jokowi - Ahok,1,Kapolri Tito,1,kecantikan,4,Kehidupan,4,Kesehatan,33,Kisah,40,Kisah Haru,2,Kisah Hikmah,2,Korupsi,2,Kriteria Wanita,1,MANFAAT,2,Muslimah,5,Nasional,1,Opini Nasional,4,Palestina,2,Parenting,1,Penangkapan Aktivis Islam,2,Pendukung Ahok,5,per,2,Peristiwa,2386,Pernikahan,6,Persidangan Ahok,22,Pilkada DKI,8,Politik,7,Public Policy,2,relasi,1,religi,8,Remaja,1,Rohingya,15,Sejarah,2,Sensasi,1,Temuan,1,Tips,38,Trending,2,Tsaqofah Islam,1,Twitter,1,Video,30,Wanita,32,
ltr
item
Kabar Viral Netizen: Jurnalis Senior : "Kita Stop Jokowi Tanpa Hoax, Ujaran Kebencian, dan Penghinaan"
Jurnalis Senior : "Kita Stop Jokowi Tanpa Hoax, Ujaran Kebencian, dan Penghinaan"
https://3.bp.blogspot.com/-ct38m0m5f6U/Wbs2RaBHE5I/AAAAAAAAImo/LBc3dTwwHd8iVu2dq04hW8NOZH6Nw8OPwCLcBGAs/s640/asyari%2Busman.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-ct38m0m5f6U/Wbs2RaBHE5I/AAAAAAAAImo/LBc3dTwwHd8iVu2dq04hW8NOZH6Nw8OPwCLcBGAs/s72-c/asyari%2Busman.jpg
Kabar Viral Netizen
http://www.kabarviral.id/2017/09/jurnalis-senior-kita-stop-jokowi-tanpa.html
http://www.kabarviral.id/
http://www.kabarviral.id/
http://www.kabarviral.id/2017/09/jurnalis-senior-kita-stop-jokowi-tanpa.html
true
6298287397591316426
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close